Love and Heart part 2

1:07 PM

ahiiiii .. akhirnya saya posting lagi tapi posting sebuah cerpen lanjutan dari Love and Heart sebelumnya. sejujurnya gak kepikiran pada awalnya untuk menciptakan yang part 2. tiba-tiba kemaren terlintas gituaja dipikiran well, jadilah cerpen part 2. dan di edisi #eciyeee* kali ini, saya mau ngasih judul yang beneran buat Love and Heart yang pertama, yaitu Memori Terakhir. silahkan klik disini untuk membacanya. dan untuk yang sekarang ini, aku mau ngasih judul Nice Dreams. sudah ah, daripada banyak cincong mending langsung baca aja yang part 2. selamat membaca, semoga tidak bosan saat membacanya :)

****------------------****

Diantara pepohonan tinggi yang berdaunan lebat sampai menutupi langit-langit, berbagai macam bunga warna warni dan harum baunya tercium hingga kejauhan. Dipadu padankan dengan udara sejuk sehingga terasa sedikit dingin di kulit. Namun rasa dinginnya udara tertutupi dengn sebuah cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dedaunan. Sebuah taman yang cantik nan asri. Apalagi diiringi oleh suara kicauan burung yang terdengar sangat merdu.
 Aku terduduk dibawah sebuah pohon dengan mengetik-ketikkan kata per-kata pada laptop abu-abu kesayangannya. Untaian kata yang tersambung menjadi satu itu terbentuk menjadi sebuah kalimat. Kalimat yang indah. Lalu kalimat-kalimat yang terkumpul menjadi sebuah paragraf. Paragraf yang mempesona. Dan setiap paragraf yang telah terkumpul dari banyaknya kata dan kalimat membentuk sebuah cerita yang menarik untuk dibaca.
Melihat ke sekeliling taman adalah caraku untuk mencari inspirasi yang bisa diketikkan dalam bentuk tulisan. Kia asyik pada ketikannya tersebut..
“Kia,” sapa seseorang. Aku menengadahkan kepalaku ke depan.
“Rooooooooiii!” teriakku sambil bangkit dari tempatku berteduh dan langsung memeluk Roi, orang yang menyapaku tadi dengan girang.
Sebuah pelukan hangat dan aroma tubuh yang amat sangat aku rindukan, kini telah dapat kulakukan lagi. Tiba-tiba airmata kebahagiaan dan haru mengalir membasahi pipiku dan tak tersadar telah membasahi kemeja Roi. Kupelkuk sangat erat Roi. Aku tak mau kehilangan dia lagi. Dia yang telah membuat hidupku menjadi sangat indah dan penuh warna. Kucium aroma tubuhnya yan begitu khas dan aroma itu sekarang bertambah wangi.
Roi melepas pelukanku. Dia memegang kedua pundakku sambil melihat kedua mataku. Dihapurnya airmata yang telah mengalir sedari tadi. Aku tersenyum bahagia pada Roi Akhirnya aku dapat bertemu dengannya setelah sekian lama tak berjumpa.
“Aku kangen banget sama kamu, Roi” ucapku memulai pembicaraan.
“Aku juga rindu padamu duhai kekasihku, sangat rindu,” Roi mengecup keningku. Sbuah kecupan yang telah lama tak kurasakan. “Nikmati hari ini bersama aku yuk! Kita akan jalan-jalan, hanya berdua,”
Aku mengangguk mempertandakan kesediaanku untuk ikut bersama. Dia menggandeng tangan kananku dan mengajakku berlari mengelilngi taman yang luas dan indah. Kami tertawa dan bercanda bersama. Berlarian kesana kemari seperti seorang anak kecil yang sedang bermain dan seperti seorang pemain sinetron india yang bernyanyi sambil bersembunyi dengan larian dibalik pohon bersama sang kekasih.
Lalu Roi berhenti mengejarku. Dia pergi ke sudut taman dan mengambil beberapa rumpat dan bunga. Aku mendekati Roi. Roi terduduk seketika itu juga, aku pun. Dia merangkai semua yang ia dapat dan jadilah sebuah mahkota kecil nan cantik. Dipakaikannya mahkota ciptaannya itu di kepalaku. Aku tersenyum girang ketika melihat sebuah mahkota buatan Roi terpasang di kepalaku.
Roi tersenyum melihatku bisa gembira seperti ini. Aku pun tersenyum bahagia dapat bertemu dengannya, dengannya yang sangat aku cintai. Lagi-lagi dia menatap kedua mataku seakan-akan dia dapat membaca pikiranku. Tangan kiriku dipegang olehnya dan pipiku dielus dengan tangan kanannya. Tangannya terasa sangat lembut dan penuh cinta. Kupejamkan kedua mataku dan menikmati belaiannya.  
“Kia, kamu tahu mahkota yang telah kamu pakai, aku buat dengan sejuta bahkan triliunan cintaku padamu. Cintaku itu tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Meski dia selalu merayuku dengan apapun, cintaku akan tetap tertuju padamu. Apalagi seluruh ragaku ini. Semuanya menjadi milikmu Kia. Semuanya,”
Aku hanya tersenyum mendengar gombalan dan ungkapan hati Roi.
“Dan kamu tahu tidak mahkota yang aku buat khusus buat kamu itu sebagai pertanda bahwa kamu adalah mahkota hatiku. Dibagaikan sebagai sebuah mahkota yang kamu pakai sekarang ini. Kalau diumpamakan dengan hal lainnya, kamu ini bagaikan sebuah pencipta tubuhku. Semua organ tubuhku terbuat dari cintamu. Cinta dan hatimu. Kamu adalah ratuku! Kamu adalah periku! Kamu adalah malaikat tercantikku! Kamu adalah segala-galanya bagiku!” Roi terhenti. Dia menatap langit-langit. Lalu dia menatapku. “Kamu lapar?”
Aku mulai tersadar perutku sudah berdangdutan sedari tadi namun tidak begitu terasa karena tertutupi oleh kebersamaanku dengannya. Aku mengangguk kecil sedikit tersenyum malu.
“Ayo kita makan!” ucapnya mengajakku berdiri.
“Kita akan makan dimana Roi?” tanyaku bingung.
“Di sesuatu tempat yang akan kau senangi,” jawabnya sambil tersenyum.
Roi menggandeng tanganku berjalan menyusuri taman. Melewati sebuah jurang yang dangkal. Melewati sebuah pohon tinggi lebih tinggi dari pohon lainnya menjulang ke langit. Melewati semak-semak yang seharusnya sulit dilewati namun dapat terlintas bersama Roi. Melewati dibawah air terjun yang membasahi tubuh kami berdua. Tapi basahan dari air terjun itu sungguh menyegarkan raga. Setelah air terjun itu terlewati, tubuh kami secara sendirinya mengering sendiri tanpa kami perlu mengeringkannya. Meski badan telah kering, sensasi dari air terjun tadi masih menghindap di tubuh.
Langkah kami terhenti pada sebuah taman kecil. “Woooww.. taman yang indah!” ucapku terkagum. Taman yang dipenuhi dengan bunga mawar, tulip, dan bunga matahari, bunga favoritku. Bunga-bunga tersebut terlihat indah dipasangkan dengan tanaman hijau dan dua buah pohon dari kanan dan kiri yang memebengkok ke berhadapat seperti membentuk sebuah payung. Dibawah kedua pohon tersebut, terdapat sepasang kursi dan sebuah meja. Diatasnya telah tersajikan hidangan masakan yang tercium sangat lezat dari tempatku berdiri dan di tengah-tengah terdapat sebuah vas kecil berisikan bunga yang telah dirangkai dengan apik.
Kami berjalan secara bersama menuju meja yang telah disiapkan itu. Roi menarik sebuah kursi sebelah kiri dan mempersilahkanku duduk. Setelah aku duduk, Roi duduk dihadapanku. Aku melihat ke piring yang berada di depanku. Isi piringnya adalah sebuah nasi sedikit dengan berlaukkan cumi goreng. Dan disebelah piringku terdapat sebuah mangkuk kecil berisikan sup merah sosis, makanan favoritku. Namun ketika aku melihat isi piring Roi, aku bingung. Isinya hanya tiga buah kurma.
“Kenapa dipiringmu hanya ada tiga buah kurma?” tanyaku heran.
“Aku sudah merasa kenyang bila hanya memakan ini,” jawabnya ringan.
“Apa tidak sebaiknya kamu turut makan seperti apa yang aku makan? Setidaknya makanan favoritmu saja,”
“Inilah makanan favoritku,”
“Ha? Sejak kapan makanan favortimu kurma? Bukankah nasi goreng adalah makanan favoritmu?”
“Sejak saat ini, makanan favorit dan keseharianku adalah kurma,”
“Ayolah kumohon, makanlah seperti apa yang kumakan,” pintaku sedih.
Roi tersenyum melihatku, “baiklah,” seketika itu juga isi piring yang tadinya hanya berisikan tiga buah kurma berubah menjadi nasi berukuran sedikit, cumi goreng, dan sup merah sosis. Seperti apa yang kumakan. Aku sungguh terkejut melihat perubahan makanan tersebut. Ketika aku akan mengeluarkan suara untuk bertanya lagi, Roi menggunakan telunjuknya untuk menutup mulutku dan tak bertanya.
Kami pun mulai memakan hidangan kami. Rasanya sungguh sangat lezat. Berbeda dengan masakan yang ada di restoran. Masakan ini sungguh sangat lezat, mengalahkan masakan hotel berbintang lima sekalipun. Aku menikmati makananku dengan lahap hingga habis tak bersisakan sedikit pun. Sedikit terasa “seret” di tenggorokan. Kuminum segelas air putih yang telah disediakan. Hm.. Rasanya begitu segar di tenggorokan, beda dengan air putih yang pernah aku minum. Ini seperti air yang benar-benar murni dari pegunungan, mungkin.
Aku mengambil setangkai kecil anggur dan aku memakannya. Rasanya manis dan di dalam buah anggur tidak ada biji satu kalipun. Aku tersadar lupa akan tentang Roi. Kulihat Roi sedang memandangiku sambil tersenyum kecil nan geli. Makanan yang ada di piringnya sudah habis entah kapan dia memakannya.
“Sudah kenyang sayang?” tanyanya tersenyum saat aku mulai kebingungan saat mengingat semua kejadian ketika berubahnya makanan di piringnya Roi begitu menakjubkan.
“Sudah,” jawabku. “Roi....,”
“Apa sayangku?”
“Keanehan apa ini yang sedang aku rasa sekarang? Kenapa semua bisa serasa seperti ada magic? Ada apa ini, Roi?”
“Ini bukan magic, sayang. Ini keagungan Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Besar. Semua ini Tuhan yang memberikan. Tak ada magic. Tak ada campur tangan manusia sekalipun. Syukuri saja apa yang ada,”
“Berarti.....,” aku bingung mengatur kata di dalam otakku. Begitu susah mengatur kata demi kata menjadi sebuah pertanyaan yang aku tuju. Namun dari sekian banyak pertanyaan yang telah kususun di otak, tak ada satu pun yang pas.
Roi bangkit dari tempat duduknya. Dipetiknya setangkai bunga mawar merah. Diberikannya bunga itu padaku. Aku mencium aroma bunga mawar. Dari dekat bunga mawar itu tercium sangat harum. Harum yang tidak menyengat hidung. Harumnya berbeda ketika masih berjarak jauh dengan harumnya ketika dekat hidung. Lebih harum di hidung. Aku tersenyum pada Roi.
Roi meraih kedua tanganku. Dia mencoba mengangkatku berdiri dan aku pun bangkit. Dia mengajakku berjalan meninggalkan taman kecil nan cantik ini. entah dia mau membawaku kemana. Kami berjalan dengan santai namun pasti. Hanya saja aku tidak tahu tujuan kemana kami ini. Aku hanya mengikuti Roi yang telah kuanggap sebagai pemimpinku.
Suasana kami berdua begitu hening. Tak ada suara pun dari mulut Roi. Aku hanya mengikuti langkah kakinya dan meliha ke sekitar ketika berjalan. Pemandangan dari pertama hingga sekarang ini berbeda-beda. Padahal aku merasa aku telah melewati jalan yang sama berulang kali. Tapi kenapa setiap perjalanan memiliki pemandangan yang berbeda tetapi pemandangannya semakin lama semakin indah. Aku cuma bisa terkagum-kagum melihat keindahan alam.
Perjalanan terhenti di sebuah danau yang luas. Airnya bening tak tersentuh kotoran atau apapun yang dapat merusak keindahan danau. Dipinggir danau terdapat sebuah batu besar dan ternyata di sebelahnya ada sebuah kapal kayu dayung kecil yang kuat. Roi pun menarikku untuk dapat menaiki kapal tersebut. Kapal tersebut didorong terlebih dahulu ke dalam pinggir danau. Lalu aku dan Roi menaiki kapal tersebut. Aku duduk manis dan di hadapanku Roi mendayung kapal menggunakan dayung yang telah tersedia. Aku ingin membantu Roi mendayung tapi bantuanku tolak karena Roi ingin aku menikmati hari ini tanpa merepotkan diriku.
Sekeliling danau yang aku lihat, di pinggir-pinggir danau hanya ada pepohonan yang rindang dan rimbun. Namun ketika kapal telah bergerak mengarah ke tengah  danau, disana terdapat seperti hutan mangrove. Ternyata benar. Kami memasuki hutan mangrove. Awalnya aku sedikit takur ketika kami akan memulai masuk ke dalam hutan mangrove yang terlihat sempit. Ketika sudah berada di dalam tempatnya indah. Mangrove tumbuh sangat besar dan jarak kami dari para mangrove ini sangat jauh.
“Mahkotanyaaaaaaa!!” teriakku ketika melihat mahkota yang kupakai terjatuh ke dalam danau. Aku menangis melihat mahkota cantik itu terjatuh.
“Sudahlah, Kia. Mahkota itu tidak penting. Kalau hilang biarkan saja,” hibur Roi. Aku pun menghapus airmataku. Tak apa aku kehilangan mahkota itu tapi tidak cintaku padaku padanya.
Sejam lamanya kami menyusuri danau. Kami pun dari kapal setelah kapal diparkirkan di pinggir danau. Kami berjalan melewati setapak-setapak yang menyerupai hutan. Sampailah kami pada sebuah tempat yang terang, sinar putih. Langkah terhenti. Roi menatapku. Dipegangnya kedua tanganku olehnya.
“Kia....,” Roi terdiam. “Aku sangat senang sekali bisa menikmati hari ini bersamamu. Tertawa, bercanda, tersenyum, dan sebagainya bersamamu. Aku sungguh menikmati hari yang sangat spesial ini. Aku tak akan melupakan hari ini. Sungguh. Tapi kisah kita hari ini harus terhenti sampai disini.....,”
“Tapi kenapa, Roi?” potongku.
“Dengarkan aku dulu, Kia sayang,” Roi memegang wajahku dan menujukan matanya pada mataku. Aku melihat kesejukan pada kedua bola matanya. “Ini menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tak ingin melihatmu menangis saat aku akan pergi meniggalkanmu. Aku ingin melihatmu bahagia. Hari ini adalah menjadi kenangan kita yang paling terindah dan tak akan terlupakan. Kamu tahu diatas sana aku selalu memperhatikanmu. Aku bangga sama kamu. Kamu dapat melewati harimu dengan riang dan gembira setelah kepergianku. Kamu hebat bisa lulus kuliah dengan hasil cumloud. Orang-orang tak banyak yang bisa seperti kamu lho, sayang. Aku juga bangga melihat kamu mulai membuka usaha butik seperti hobimu dan kamu dapat menerbitkan beberapa novel ciptaanmu.
Aku do’ain agar kamu baik-baik saja disana. Sebelum aku pergi, aku ingin bilang sesuatu padamu. Aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Masih ingat kan perkataanku tadi saat kubuatkan kau mahkota?”
“Masih,” jawabku sambil mengangguk kecil.
“Meski kita tak akan pernah berjumpa kembali, tapi satu yang pasti bahwa kamu adalah mahkotaku, ratuku, putriku, permasuriku, dan pemilik seluruh ragaku. Jangan pernah lupakan aku, sayang. Kirimkan do’a untukku. Aku disini akan mendo’akan dan memperhatikanmu. Jika kamu sedang sedih, tataplah bintang-bintang. Mereka mewakili aku yang tersenyum untuk menemani malammu dan menghapus sedihmu. Dan ingatlah suatu hari nanti kamu akan berjumpa dan menemukan penggantiku yang akan selalu menemani hidupmu. Ikhlaskan kepergianku. Walau aku jauh dimata tetapi aku dekat disini, dihatimu,” Roi menunjuk jarinya ke hatiku.
Roi memalingkan badannya dan melangkah secara perlahan meninggalkanku. “Roii...” cegahku. Roi berhenti melangkah.
“Bolehkah aku memelukmu dan ciumlah keningku untuk terakhir kalinya?” pintaku padanya.
Roi memutar badannya ke arahku. Dia melangkah maju mendekatiku. Langsung saja tanpa Roi yang memulai, kupeluk dirinya dengan erat, sangat erat. Kucium aroma tubuhnya yang wangi untuk terakhir kali. Airmataku tertahan di mata. Aku tak ingin menangis dihadapannya ketika ia akan kembali ke alamnya. Pikiranku sungguh kacau saat mendengar semua perkataannya tadi.  Namun aku harus menerimanya seperti aku mengikhlaskan kepergiannya yang dulu.
Setelah lama aku memeluk dan mencium aroma tubuhnya, Roi melepas pelukanku. Dipegangnya pundakku dan ditataplah wajahku. Dia tersenyum manis sekali. Aku hanya bisa tersenyum sekenanya dengan airmata yang tertahan. Tak lama kemudian, Roi mencium keningku dengan sedikit agak lama.
“Aku mencintaimu.... Kia,” ucap Roi setelah selesei mengecup keningku.
“Aku akan sangat rindu padamu. Aku juga sangat mencintaimu, Roi,” Roi berjalan mundur  secara perlahan dan menghilang.
Aku terbangun dari tidurku dengan pernapasan yang tersengal-sengal. Kuambil pigora fotoku bersama Roi di sebelah tempat tidurku. Aku menangis melihat foto itu. Kupegang dan kuelus tepat pada wajah Roi.
Ini hanya mimpi. Bunga tidur semata. Namun, bunga tidur ini begitu indah tapi begitu menyedihkan pula. Sebuah pertemuan terakhir yang hanya melalui mimpi. Hanya saja setiap aroma yang aku hirup disana masih sangat terasa disini. Aku rindu ketika berada disana. Ketika menikmati hari bersama Roi. Roi seorang tanpa lainnya, gumamku dalam hati.
Keesokan paginya, aku telah siap dengan mengenakan pakaianku. Setelah menikmati sarapanku, aku pergi menuju butik milikku. Dalam perjalanan aku teringat mimpi semalam. Kulihat kalender yang berada di hapeku. Hari ini bertepatan setahun setelah kematian Roi. Kuputuskan untuk memutar balik mobil yang kukendarai menuju pemakaman Roi. Sebelumnya aku mampir untuk membeli setangkai bunga dan sebotol air.
Sesampainya di pintu masuk pemakaman. Dengan langkah pelan, aku masuk ke dalam dan berjalan menuju pemakamannya Roi. Aku berdiri tepat di makamnya Roi. Kusiramkan makamnya mulai dari batu nisan bertuliskan nama Roi hingga ujung makamnya. Kuletakkan bunga yang tadi kubeli diatasnya. Aku duduk dan berdo’a khusus hanya untuk dirinya. Seusai berdo’a, aku memegang batu nisan yang masih terlihat jelas tulisan bernama Roi Kurniawan. Aku tersenyum melihat Roi telah tenang dialam sana..
Setahun sudah keergiannya. Aku masih saja mencintai dirinya. Entah mengapa. Dia begitu istimewa bagiku. Dia penghibur hatiku, pengobat lukaku. Hanya dia yang aku sayangi. Aku akan terus mencoba mengikhlaskan kepergiannya. Dan aku akan terus mendo’akannya.
Aku berdiri. Tersenyum sangat manis. Memutar badan dan berjalan meninggalkan makam Roi. Sambil berjalan menuju mobil, aku melihat ke sekeliling makam. Banyak makam yang telah terurus baik dan dijaga oleh petugas dengan sangat baik. Ketika aku menoleh ke depan, “Rooooiii!”

--------------------------------------------------------------------------------

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

INSTAGRAM

Subscribe